This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 10 Oktober 2016

Ni'mat ALLAH Yang Paling Sering diKeluhkan

Image result for Hujan

Kita semua mengetahui bahwa hujan adalah satu dari sekian ni'mat yang diberi ALLAH kepada hambanya. Namun masih banyak saja orang yang mengeluh saat terjadi hujan, padahal hujan merupakan rahmat yang diturunkan ALLAH . ALLAH SWT

                                                                                                                
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28)

Arti Rahmat Dalam Beberapa Ayat

Kata rahmat dalam beberapa ayat al-Qur'an mempunyai beberapa makna beragam, diantaranya:
1. Islam, yakni dalam ayat:
يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ
Allah menentukan rahmat-Nya [kenabian] kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Q.S.Ali-Imran: 74). 
2. Iman, seperti dalam firmanNya:
قَالَ يَـٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ۬ مِّن رَّبِّى وَءَاتَٮٰنِى رَحۡمَةً۬ مِّنۡ عِندِهِۦ فَعُمِّيَتۡ عَلَيۡكُمۡ أَنُلۡزِمُكُمُوهَا وَأَنتُمۡ لَهَا كَـٰرِهُونَ 
Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?" (Q.S. Hud: 28).  
3. Surga, yakni dalam ayat yang berbunyi:
وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱبۡيَضَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فَفِى رَحۡمَةِ ٱللَّهِ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ
Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah [surga]; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Ali-Imran: 107).
4. Hujan. sesuai dengan bunyi ayat berikut:
وَمَن يُرۡسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَىۡ رَحۡمَتِهِۦۤ‌ۗ أَءِلَـٰهٌ۬ مَّعَ ٱللَّهِ‌ۚ تَعَـٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ
dan siapa [pula] kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum [kedatangan] rahmat-Nya? [4] Apakah di samping Allah ada tuhan [yang lain]? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan [dengan-Nya]. (Q.S. An-Naml: 63).
5. Rezeki. Ini makna pada firman Allah Ta'ala:
قُل لَّوۡ أَنتُمۡ تَمۡلِكُونَ خَزَآٮِٕنَ رَحۡمَةِ رَبِّىٓ إِذً۬ا لَّأَمۡسَكۡتُمۡ خَشۡيَةَ ٱلۡإِنفَاقِ‌ۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَـٰنُ قَتُورً۬ا 
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Q.S. Al-Isra': 100).
6. Kesehatan. Berdasarkan firman Allah Ta'ala:
 قُلۡ أَفَرَءَيۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِىَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَـٰشِفَـٰتُ ضُرِّهِۦۤ أَوۡ أَرَادَنِى بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَـٰتُ رَحۡمَتِهِۦ‌ۚ قُلۡ حَسۡبِىَ ٱللَّهُ‌ۖ عَلَيۡهِ يَتَوَڪَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ
Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Az-Zumar: 38).

                   ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                    

 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sumber:1001 Tanya-Jawab Tentang Al-Qur'an, hal. 1001, Qasim Asyur, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar.

Selain itu hujan juga waktu merupakan waktu yang mustajab untuk berdo'a kepada ALLAH SWT.Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
        
                                                                                                                    
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”
 
                                                      
Image result for HujanSumber : www.flickr.com
         


Disini kita bisa melihat bahwasannya hujan merupakan sebuah rizki yang diberikan oleh ALLAH SWT kepadaha hambanya yang menysukuri ni'mat itu, Akan tetapi masih banyak orang yang tidak menysukuri itu,  karena  berbagai macam alasan, orang yang mensyukuri terjadinya hujan pasti akan mengambil hikmah dari turunnya hujan itu. Saat terjadinya bencana seperti kabut asap yang pernah terjadi di Indonesia, hujan sangat dibutuhkan pada saat itu sampai-sampai diberbagai kota melakukan sholat istiqa(Sholat minta hujan). Apa yang terjadi jika hujan tidak pernah turun lagi? Apa yang terjadi, tidak pernah mengingatku lagi, seperti orang-orang yang lupa tentang hujan?.

Oleh sebab itu marilah saudara-saudariku sekalian yang dirahmati ALLAH SWT. mulai sekarang marilah untuk kita tidak mengeluh apabila terjadi hujan, syukuri ni'mat ALLAH SWT dengan membaca do'a saat terjadi hujan. Insya ALLAH. ALLAH akan mengabulkan do'a kepada hambanya yang mau bersyukur dan bersabar dari segala ni'mat dan cobaan yang ALLAH. berikan kepada hambanya.

Jumat, 07 Oktober 2016

Kesabaran yang Luar Biasa




Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “Ats-Tsiqat” kisah ini. Dia adalah imam besar, Abu Qilabah Al-Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Berikut kisahnya :
Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang berdoa,
“Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.” (QS. An-Naml: 19).
Aku melihat orang yang berdoa tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya. Beliau kehilangan anaknya, yang biasa  membantunya berwudhu dan memberi makan…

Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?”

Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah, seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, “Sungguh, sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku? (Anaknya inilah yang biasa  membantunya berwudhu dan memberi makan)
Maka aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk  mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini?  Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam.
Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.
Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?”
Aku katakan, “Benar.”
Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?”
Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”
Dia menjawab, “Ya.”
Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat dengannya?”
Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya.”
Aku katakan, ”Bagaimana dia  menyikapinya?”
Dia berkata, “Ayyub bersabar.”
Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?”
Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya.”
Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?”
Dia berkata, “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?”
Lalu aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit  pasir.”
Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.”
Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.
Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok mendatangiku.
Para perampok itu berkata, “Apa yang terjadi?” Maka aku ceritakan apa yang telah terjadi. Mereka berkata, “Bukakan wajahnya kepada kami!” Maka aku membuka wajahnya, lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya seraya berkata,  “Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.”
Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan menguburnya. Kemudian, aku kembali ke perbatasan. Lalu, aku tidur dan aku melihatnya dalam mimpi, beliau kondisinya sehat. Aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau sahabatku?” Dia berkata,” Benar.” Aku berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Dia berkata, “Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku, ‘Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.’” (QS. Ar-Ra’d: 24). “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dari ceramah Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul Jannatu Ridha fit Taslim Lima Qadarallah wa Qadha
 
Sumner : www.KisahMuslim.com

Kamis, 06 Oktober 2016

Kesaksian Guru Bakrie Atas Karomah Abah Guru Sekumpul

Berkata Allahyarham Guru Bakrie.
Pernah dulu ada fitnah terhadap Syaikhona Abah guru sekumpul waktu itu pernah satu kali Abah Guru tidak sholat jum'at lalu di katakan wali apa itu sampai tidak sholat jum'at.
Hingga Aku kata Guru Bakrie bertemu dengan Abah guru dan Abah guru berkata, Aku sudah siap-siap di kamar mau berangkat ke Mesjid untuk sholat jum'at dan tiba-tiba Aku lihat al qur'an itu bediri tepat di depan pintu kamar.
Aku tidak mungkin melangkahi Al qur'an itu sehingga aku duduk menunggu Al quran itu tidak berdiri lagi di depan pintu kamar, tapi Al qur'an itu tetap berdiri sampai berakhirnya sholat jum'at baru Al quran itu menyingkir dari pintu.
Dan aku tidak tahu ada apa di balik itu semua, tapi Aku hanya tidak mungkin melangkahi Al quran sehingga aku tidak sholat jum'at dan aku pun di fitnah macam-macam tapi aku hanya diam kada melawani karena mereka tidak tahu kenapa Aku tidak sholat jum'at. (Allahyarham Guru Bakrie berkata, cap munafik apabila aku berdusta akan hal ini).
Berkata Allayrham Guru Bakrie Gambut.
Waktu itu ada haji Akbar dimana wukuf arafah bertepatan hari jum'at dan waktu itu di Mekah dan arafah turun hujan, karena tidak biasa Mekah turun hujan.
Aku membawa rombongan utk haji akbar itu kata Allahyarham Guru Bakrie.
Saat tawaf dan juga saat di padang Arafah aku melihat Syaikhona Abah guru dengan berpakaian ihram, dan yang lihat beliau bukan aku saja tapi hampir seluruh jemaah yang aku bawa melihat Syaikhona Abah guru sekumpul sampai aku berkesimpulan Abah Guru berangkat menunaikan ibadah haji karena saat itu ibadah haji akbar.
Pada hari ahad sore aku telpon kawan ku yang berada di banjar, apakah Majelis Sekumpul jalan atau istirahat, karena aku pikir Abah guru menunaikan ibadah haji. Tapi aku kaget karena kawan ku bilang majelis sekumpul tetap jalan seperti biasa. Dan kami semua jemaah heran karena kami yakin betul Abah Guru sekumpul terlihat di beberapa tempat walau saat di dekati Abah guru menghilang.
Sampai akhirnya aku pulang ke benua lagi. Dan masih penasaran dengan hal itu, lalu selesai majelis kamis sore di sekumpul aku mendatangi ibu Rahmah adik dari Abah Guru sekumpul untuk bertanya apakah Abah guru berangkat haji tahun ini.
Ibu Rahmah berkata bahwa Abah guru tidak berangkat kemana-mana tapi memang ada hal yang aneh kata Ibu Rahmah..
Waktu itu aku lewat kamar Abah guru karena waktu itu pintu kamar sedikit terbuka dan tanpa sengaja Aku lihat Abah guru memakai pakaian ihram dan pakaian ihram itu terlihat basah seperti kena hujan. Mendengar penjelasan itu aku pun yakin kata Guru Bakrie bahwa yang aku lihat itu betul-betul Abah Guru sekumpul karena saat itu mekah dan arafah di guyur hujan..
Berkata Allahyarham Guru Bakrie.
Waktu itu aku bertamu kerumah Abah Guru Sekumpul. Dan aku lihat di depan ada org tua yang duduk menunggu untuk bertemu Abah Guru
Karena belum dapat ijin dari petugas, orang tua itu menunggu di depan pintu rumah Abah guru sekumpul.
Aku pun masuk bertemu Abah guru, wkt kami berbincang-bincang Abah guru berkata...
"Bakrie kita betangguhan yo (main tebakan).
Coba ikam tangguhi (coba tebak), siapa nama org yang menunggu di depan tu nah beserta bin nya, lalu darimana asalnya dan mau apa dia kesini."
Lalu Guru Bakrie berkata :
"Kada tahu ulun abah, ulun hanyar hari ini aja betamu lawan urang itu (tidak tahu abah, saya baru pertama kali ketemu dengan orang itu).
Lalu Abah guru tertawa sambil baucap :
"Namanya tu Bakrie ae fulan bin si fulan, alamat nya di jalan ini, urg barabai. Kesini hendak minta banyu soalnya ada keluarganya yang sakit keras."
Lalu Aku kata Guru Bakrie menemui orang itu dan bertanya siapa nama dengan binnya, alamat rumahnya dan hajatnya kesini, dan memang benar sekali, apa yang di ucapkan Abah guru itu tepat semua, padahal Abah guru sekumpul baru pertama kali bertemu, itu karena Abah guru kasyaf dan tahu apa yang ada di dalam hati orang itu.
Pernah juga ada seorang Habaib yang bertamu Abah guru dan pakaiannya seperti pakaian orang yang mau kondangan pakai baju hem, dan celana panjang sambil baucap :
"Aku ne habaib guru"
Abah Guru berkata :
"Kada usah baucap kaya itu, aku tahu ja orang itu habaib atau kada kata Abah guru."
Maka Habaib itu pun diam karena merasa malu kurang adab dengan Abah guru.
Dan Allahyarham Al allimul al alamah Guru Bakrie Gambut berkata :
"Munafik bila aku berdusta, aku bertemu dengan Abah Guru dan Abah guru bekata :
"Aku Bakrie kemarian sabtu pengajian ibu-ibu hendak mehimungi (menyenangkan) para ibu-ibu di majelis sabtu sekumpul, jadi Aku hendak belucu-lucu. Aku pakai jas, pakai kopiah hitam dan pakai kacamata hitam sehingga ibu ibu tertawa melihat aku. Tapi tidak berapa lama, aku melihat Rasulallah hadir dan datang kepadaku sambil memeluk dan mencium ku, aku kaget dan menangis terisak-isak di tengah Majelis ibu ibu, karena aku merasa tidak pantas di peluk dan di cium Rasulallah. Yang niat nya Aku hendak belucu-lucu menjadi betangisan di majelis, karena hadirnya Rasulallah.
Allahyarham Guru Bakrie berkata :
"Aku di ijini menceritakan hal ini oleh Abah guru apabila Abah guru sudah tidak ada lagi, karena akan menjadi fitnah bagi Abah Guru sekumpul, dan aku Munafik apabila cerita ku ini dusta belaka.
Syaikhona Abah Guru sekumpul berkata :
"Sekiranya kalian di buka kan hijab ini maka kalian akan lebih banyak menangis daripada tertawa, dan lebih banyak bergadang sedikit tidur karena yang kalian lihat akan membuat kalian lebih banyak menangis dan sedikit tidur.
Subhanallah..!
Oleh : @Yusrie Salman Al Aydrus.
Sumber : http://www.trendingtopic.top/2016/04/kesaksian-guru-bakrie-atas-karomah-abah.html

Jumat, 23 September 2016

Setiap Amalan Dalam Kesulitan Terkandung Pahala Yang Sangat Besar




Sahabat Dunia Islam, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.
Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.
Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.
Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”
“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.
Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?
Setiap Amalan Dalam Kesulitan Terkandung Pahala Yang Sangat Besar , Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Sumber: NU Online

Kaya Itu Letaknya diHati,Bukan diHarta

Penceramah :  Habib Ali Zainal Abidin.

Pada zaman dahulu ada seorang raja melihat seseorang laki-laki berbaring di sebuah pohon serta berteduh menggunakan daun daripada pohon itu. Saat dia bangun dia mengambil tasnya dan di buka lalu di ambilnya dari dalam tas itu sebuah roti kering. Tepat di depannya ada sebuah sungai dengan air yang bersih maka di basahi roti keringnya itu menggunakan air sungai dengan cara di celupkan roti keringnya ke dalam air sungai lalu di memakan roti itu dan meminum air sungai tersebut.
“Alhamdulillah~~”
Dia mengucapkan kalimat syukur itu dengan sangat dalam, dia terlihat sangat puas dengan roti keringnya dengan air sungai.
Setelah mendengarnya raja itu bertanya di dalam hatinya,
“nikmat apa yang dia dapat dengan roti kering dan air sungai itu sehingga nadanya bersyukur sangat dalam?”
Maka disuruhlah pada pengawal untuk memanggil laki-laki itu, setibanya di hadapan raja maka raja itu bertanya,
”apa yang kau katakan tadi?”
Di ulangilah oleh laki-laki itu apa yang dia katakan hingga berkali-kali,
“kamu tidak punya rumah, makananmu roti kering, bahkan minumanmu air sungai. Tapi kamu ungkapkan rasa syukurmu seperti itu. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu sehingga kamu dapat mengekspresikan rasa syukurmu seperti itu?”
Mendengar perkataan raja maka laki-laki itu berkata,
“wahai raja, jika anda memakan makanan tapi makanan itu tersangkut di tenggorokan anda kecuali hanya air, tapi air itu hanya boleh anda dapat seharga separuh harta kerajaan yang anda punya, maukah anda membeli air itu?”
                ”tentu saja, tidak akan ku biarkan makanan itu tersangkut di tenggorokanku” jawab raja demikian.
Mendengar jawaban raja lalu laki-laki bertanya lagi,
“wahai tuan raja, jika air yang anda minum tidak bisa keluar lagi kecuali di beli lagi dengan separuh harta kerajaan anda, apakah anda akan membelinya?”
                “Iya, siapa yang mau menahan sakit tidak bisa buang air kecil” jawab raja.
Lalu laki-laki itu berkata,
“jika demikian maka seluruh harta kerajaan milik anda bila di bandingkan dengan segelas air dan nikmat buang air kecil itu sama sekali belum memadai. Aku bahkan dapat berteduh gratis, dapat minum gratis, dan dapat roti. Bukankah itu sebesar-besar nikmat yang Allah bagi?”
 Yang di istana tidak dapat merasakan nikmat yang duduk di bawah pohon. Harta itu bukan soal berapa yang kita punya. Orang yang kaya adalah orang yang hatinya kaya. Dengan adanya apa yang dia makan hari ini dia bersyukur “Alhamdulillah~~”.
Namun ada juga orang yang kaya harta dan kaya hati, dan ada juga orang sudah miskin harta, hatinya pun miskin. Ini adalah hal yang tidak dapat kita ukur dengan dhahir.
Ada seorang murid yang berguru pada guru yang sangat miskin, tidak punya apa-apa, rumahnya pun kecil. Yang mana jika ingin makan maka dia harus pergi ke sungai untuk memancing. Apabila dapat ikan dia makan, keesokan harinya pun demikian, setiap hari seperti itu.
Satu hari guru itu mengutus muridnya untuk menyampaikan suatu hajat kepada abangnya di kota. Mendengar itu muridnya lalu pergi ke kota, di cari alamat rumah abang dari gurunya. Sesampainya di tujuan dia melihat rumah abangnya sangat besar. Sesudah berjumpa dengan abangnya, disampaikan hajatnya lalu murid itu berkata,
“saya di perintahkan guru saya untuk memohon kepada tuan untuk menasehati guru saya”
Maka abangnya menjawab,
“beri tahu kepada adik saya, jangan terlalu cinta dengan dunia”
Mendengar itu muridnya bertanya lagi,
“apa anda yakin dengan nasihat itu? Bukankah nasihat itu seharusnya untuk anda?”

Karena tidak mendengar jawaban murid itu langsung kembali ke kampung dan menjumpai gurunya lalu mengatakan nasihat dari abang guru itu, setelah mendengarnya guru itu pun menangis.
Keesokan hari murid itu bertanya,
                “wahai guru, sebenarnya apa yang berlaku?”
Gurunya menjawab,
“wahai muridku, sesungguhnya abangku itu tidak cinta kepada dunia, tapi dunia yang mencintainya sehingga dunia mengejarnya. Jika seluruh harta miliknya hilang dalam sekejap, tapi tidak akan berubah kekayaan hatinya dengan Allah. Aku selalu berfikir apakah besok aku akan dapat ikan atau tidak?. Dirinya masih bergantung dan bertanya-tanya”.
 Ukuran kekayaan itu adalah di hati, bukan kekayaan yang seperti kelihatannya, bukan dengan banyaknya harta yang di simpan tapi kekayaan di dalam hati.

“wallahu’alam”

Sumber : https://fuuislam.wordpress.com/2016/05/25/kaya-itu-letaknya-di-hati-bukan-di-harta/

Karena Ibu Akan Selalu Bersama Kita


 Karena Ibu Akan Selalu Bersama Kita
Alkisah, ada seorang ibu muda yang menapakkan kakinya di jalan kehidupan. “Jauhkah perjalanannya?” tanyanya. Dan si pemandu menjawab, “Ya, jalurnya berat. Dan kau akan menjadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan. Tapi akhir perjalanan akan lebih baik dari awalnya.”
Ibu muda itu tampak berbahagia, tapi dia tidak begitu percaya kalau segala sesuatunya bisa lebih baik dari masa-masa yang sudah dilewatinya. Ibu itu pun bermain-main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga bagi mereka di sepanjang perjalanan, memandikan mereka di sungai yang jernih. Mereka bermandikan sinar matahari yang hangat. Ibu muda itu bersuara kencang, “Tidak ada yang lebih indah dari ini.”
Ketika malam tiba, terjadi badai yang membuat jalanan menjadi gelap. Anak-anak bergetar ketakutan dan kedinginan. Sang ibu mendekap anak-anak dan menyelimuti mereka dengan mantelnya. Anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak takut karena engkau ada di dekat kami. Karena ada ibu, kami tidak akan terluka.”
Esok paginya, ibu dan anak-anaknya mendaki sebuah bukit. Lama-kelamaan mereka menjadi lelah. Namun, sang ibu selalu berkata pada anak-anaknya, “Sabarlah sedikit lagi, kita pasti akan sampai.” Kata-kata itu cukup membuat anak-anak bersemangat kembali untuk melanjutkan pendakian mereka. Dan ketika akhirnya tiba di atas bukit, anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak akan bisa sampai di sini tanpamu.”
Dan ketika berbaring di malam hari, sang ibu memandangi bintang-bintang dan mengucap syukur, “Hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, karena anak-anak saya belajar bersikap tabah dalam menghadapi kesusahan. Kemarin, saya memberi mereka keberanian. Hari ini, saya memberi mereka kekuatan.”
Dan keesokan harinya, datang awan tebal yang menggelapkan bumi, awan peperangan, kebencian dan kejahatan. Membuat anak-anak itu tersandung dan terjatuh, tapi sang ibu berusaha menguatkan mereka, “Lihatlah ke arah cahaya kemuliaan itu.” Anak-anak itu pun menuruti. Di atas awan terlihat cahaya yang bersinar sangat terang, dan cahaya itulah yang membimbing mereka melewati kegelapan itu. Malam itu berkatalah sang ibu, “Inilah hari yang terbaik. Karena saya sudah menunjukkan Tuhan pada anak-anak saya.”
Hari pun berlalu dengan cepat, lalu berganti dengan minggu, bulan, dan tahun. Sang ibu pun mulai menua dan tubuhnya menjadi membungkuk. Sementara, anak-anaknya bertumbuh besar dan kuat, serta berjalan dengan langkah berani. Ketika jalan yang mereka lalui terasa berat, anak-anak itu akan mengangkat ibu mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit. Di atas sana, mereka bisa melihat sebuah jalan yang bercahaya dan gerbang emas dengan pintu terbuka lebar. Sang ibu berkata, “Ini sudah akhir perjalanan. Dan sekarang saya tahu, akhir perjalanan ini memang lebih baik daripada awalnya karena anak-anak saya bisa berjalan sendiri, dan begitupun cucu-cucu saya.”
Dan anak-anaknya berkata, “Ibu akan selalu menyertai kami, sekalipun Ibu sudah pergi melewati gerbang itu.” Dan anak-anak itu melihat ibu mereka berjalan sendiri, lalu gerbang itu tertutup di belakangnya. Anak-anak itu berkata lagi, “Kami memang tidak melihatnya lagi, tapi Ibu tetap ada bersama kami. Seorang ibu seperti Ibu kami lebih dari sekadar memori. Dia selalu hidup di hati kami.”
Sama seperti dalam kisah di atas, Ibu kita pun selalu bersama kita. Dia bagai suara desiran dedaunan saat kita berjalan menyusuri jalan. Ibu kita hadir di tengah canda tawa kita. Dia mengkristal di setiap airmata kita. Dialah tempat kita berasal, rumah kesayangan kita; dan dialah peta yang mengarahkan langkah yang kita ambil. Dialah cinta kita, dan tidak ada satu pun hal yang bisa memisahkan kita dengan ibu kita. Tidak juga waktu, atau tempat….ataupun kematian. Karena Ibu akan selalu bersama kita.
Sumber : https://iphincow.com/2016/04/08/karena-ibu-akan-selalu-bersama-kita/#more-1328

Makhluk paling kuat imannya

Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat.

"Siapa makhluk yang paling kuat imannya?" Tanya Rasulullah

"Malaikat" Jawab sahabat.

"Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka tidak diberi nafsu oleh ALLAH,mereka hanyak memiliki akal, dan mereka senantiasa dekat dengan ALLAH." jawab Rasulullah.

“Para nabi,” jawab Sahabat.

“Bagaimana para nabi tidak beriman sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.” Nabi membantah lagi jawapan Sahabat.

“Kami Sahabatmu?!” Jawab Sahabat.

“Bagaimana kalian  tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?” Jawab Nabi. 

Akhirnya Rasul bersabda: “Makhluk paling kuat imannya ialah mereka yang hidup sesudah aku. Mereka tidak pernah berjumpa tetapi beriman denganku. Tapi mereka mencintai aku melebihi anak dan orang-orang tua mereka. Mereka ialah Ikhwanku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya.” (Riwayat Abu Ya’la)

“Wahai Abu Bakar,” Rasulullah bersabda, “Adakah kamu tidak rindu Ikhwanku karena mereka juga mencintai engkau karena engkau Sahabatku.” (Riwayat Ibnu Hajar Asqalani )

Rasulullah SAW menyambung lagi: “Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman dengan aku. Dan berbahagialah tujuh kali orang-orang yang beriman dengan aku tapi tidak pernah berjumpa dengan aku.” (Riwayat Imam Ahmad)



Sumber : http://globalikhwan.or.id/kisah-nabi-muhammad-saw/