Jumat, 23 September 2016

Kaya Itu Letaknya diHati,Bukan diHarta

Penceramah :  Habib Ali Zainal Abidin.

Pada zaman dahulu ada seorang raja melihat seseorang laki-laki berbaring di sebuah pohon serta berteduh menggunakan daun daripada pohon itu. Saat dia bangun dia mengambil tasnya dan di buka lalu di ambilnya dari dalam tas itu sebuah roti kering. Tepat di depannya ada sebuah sungai dengan air yang bersih maka di basahi roti keringnya itu menggunakan air sungai dengan cara di celupkan roti keringnya ke dalam air sungai lalu di memakan roti itu dan meminum air sungai tersebut.
“Alhamdulillah~~”
Dia mengucapkan kalimat syukur itu dengan sangat dalam, dia terlihat sangat puas dengan roti keringnya dengan air sungai.
Setelah mendengarnya raja itu bertanya di dalam hatinya,
“nikmat apa yang dia dapat dengan roti kering dan air sungai itu sehingga nadanya bersyukur sangat dalam?”
Maka disuruhlah pada pengawal untuk memanggil laki-laki itu, setibanya di hadapan raja maka raja itu bertanya,
”apa yang kau katakan tadi?”
Di ulangilah oleh laki-laki itu apa yang dia katakan hingga berkali-kali,
“kamu tidak punya rumah, makananmu roti kering, bahkan minumanmu air sungai. Tapi kamu ungkapkan rasa syukurmu seperti itu. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu sehingga kamu dapat mengekspresikan rasa syukurmu seperti itu?”
Mendengar perkataan raja maka laki-laki itu berkata,
“wahai raja, jika anda memakan makanan tapi makanan itu tersangkut di tenggorokan anda kecuali hanya air, tapi air itu hanya boleh anda dapat seharga separuh harta kerajaan yang anda punya, maukah anda membeli air itu?”
                ”tentu saja, tidak akan ku biarkan makanan itu tersangkut di tenggorokanku” jawab raja demikian.
Mendengar jawaban raja lalu laki-laki bertanya lagi,
“wahai tuan raja, jika air yang anda minum tidak bisa keluar lagi kecuali di beli lagi dengan separuh harta kerajaan anda, apakah anda akan membelinya?”
                “Iya, siapa yang mau menahan sakit tidak bisa buang air kecil” jawab raja.
Lalu laki-laki itu berkata,
“jika demikian maka seluruh harta kerajaan milik anda bila di bandingkan dengan segelas air dan nikmat buang air kecil itu sama sekali belum memadai. Aku bahkan dapat berteduh gratis, dapat minum gratis, dan dapat roti. Bukankah itu sebesar-besar nikmat yang Allah bagi?”
 Yang di istana tidak dapat merasakan nikmat yang duduk di bawah pohon. Harta itu bukan soal berapa yang kita punya. Orang yang kaya adalah orang yang hatinya kaya. Dengan adanya apa yang dia makan hari ini dia bersyukur “Alhamdulillah~~”.
Namun ada juga orang yang kaya harta dan kaya hati, dan ada juga orang sudah miskin harta, hatinya pun miskin. Ini adalah hal yang tidak dapat kita ukur dengan dhahir.
Ada seorang murid yang berguru pada guru yang sangat miskin, tidak punya apa-apa, rumahnya pun kecil. Yang mana jika ingin makan maka dia harus pergi ke sungai untuk memancing. Apabila dapat ikan dia makan, keesokan harinya pun demikian, setiap hari seperti itu.
Satu hari guru itu mengutus muridnya untuk menyampaikan suatu hajat kepada abangnya di kota. Mendengar itu muridnya lalu pergi ke kota, di cari alamat rumah abang dari gurunya. Sesampainya di tujuan dia melihat rumah abangnya sangat besar. Sesudah berjumpa dengan abangnya, disampaikan hajatnya lalu murid itu berkata,
“saya di perintahkan guru saya untuk memohon kepada tuan untuk menasehati guru saya”
Maka abangnya menjawab,
“beri tahu kepada adik saya, jangan terlalu cinta dengan dunia”
Mendengar itu muridnya bertanya lagi,
“apa anda yakin dengan nasihat itu? Bukankah nasihat itu seharusnya untuk anda?”

Karena tidak mendengar jawaban murid itu langsung kembali ke kampung dan menjumpai gurunya lalu mengatakan nasihat dari abang guru itu, setelah mendengarnya guru itu pun menangis.
Keesokan hari murid itu bertanya,
                “wahai guru, sebenarnya apa yang berlaku?”
Gurunya menjawab,
“wahai muridku, sesungguhnya abangku itu tidak cinta kepada dunia, tapi dunia yang mencintainya sehingga dunia mengejarnya. Jika seluruh harta miliknya hilang dalam sekejap, tapi tidak akan berubah kekayaan hatinya dengan Allah. Aku selalu berfikir apakah besok aku akan dapat ikan atau tidak?. Dirinya masih bergantung dan bertanya-tanya”.
 Ukuran kekayaan itu adalah di hati, bukan kekayaan yang seperti kelihatannya, bukan dengan banyaknya harta yang di simpan tapi kekayaan di dalam hati.

“wallahu’alam”

Sumber : https://fuuislam.wordpress.com/2016/05/25/kaya-itu-letaknya-di-hati-bukan-di-harta/

0 komentar:

Posting Komentar