This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 23 September 2016

Setiap Amalan Dalam Kesulitan Terkandung Pahala Yang Sangat Besar




Sahabat Dunia Islam, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.
Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.
Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.
Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”
“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.
Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?
Setiap Amalan Dalam Kesulitan Terkandung Pahala Yang Sangat Besar , Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Sumber: NU Online

Kaya Itu Letaknya diHati,Bukan diHarta

Penceramah :  Habib Ali Zainal Abidin.

Pada zaman dahulu ada seorang raja melihat seseorang laki-laki berbaring di sebuah pohon serta berteduh menggunakan daun daripada pohon itu. Saat dia bangun dia mengambil tasnya dan di buka lalu di ambilnya dari dalam tas itu sebuah roti kering. Tepat di depannya ada sebuah sungai dengan air yang bersih maka di basahi roti keringnya itu menggunakan air sungai dengan cara di celupkan roti keringnya ke dalam air sungai lalu di memakan roti itu dan meminum air sungai tersebut.
“Alhamdulillah~~”
Dia mengucapkan kalimat syukur itu dengan sangat dalam, dia terlihat sangat puas dengan roti keringnya dengan air sungai.
Setelah mendengarnya raja itu bertanya di dalam hatinya,
“nikmat apa yang dia dapat dengan roti kering dan air sungai itu sehingga nadanya bersyukur sangat dalam?”
Maka disuruhlah pada pengawal untuk memanggil laki-laki itu, setibanya di hadapan raja maka raja itu bertanya,
”apa yang kau katakan tadi?”
Di ulangilah oleh laki-laki itu apa yang dia katakan hingga berkali-kali,
“kamu tidak punya rumah, makananmu roti kering, bahkan minumanmu air sungai. Tapi kamu ungkapkan rasa syukurmu seperti itu. Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu sehingga kamu dapat mengekspresikan rasa syukurmu seperti itu?”
Mendengar perkataan raja maka laki-laki itu berkata,
“wahai raja, jika anda memakan makanan tapi makanan itu tersangkut di tenggorokan anda kecuali hanya air, tapi air itu hanya boleh anda dapat seharga separuh harta kerajaan yang anda punya, maukah anda membeli air itu?”
                ”tentu saja, tidak akan ku biarkan makanan itu tersangkut di tenggorokanku” jawab raja demikian.
Mendengar jawaban raja lalu laki-laki bertanya lagi,
“wahai tuan raja, jika air yang anda minum tidak bisa keluar lagi kecuali di beli lagi dengan separuh harta kerajaan anda, apakah anda akan membelinya?”
                “Iya, siapa yang mau menahan sakit tidak bisa buang air kecil” jawab raja.
Lalu laki-laki itu berkata,
“jika demikian maka seluruh harta kerajaan milik anda bila di bandingkan dengan segelas air dan nikmat buang air kecil itu sama sekali belum memadai. Aku bahkan dapat berteduh gratis, dapat minum gratis, dan dapat roti. Bukankah itu sebesar-besar nikmat yang Allah bagi?”
 Yang di istana tidak dapat merasakan nikmat yang duduk di bawah pohon. Harta itu bukan soal berapa yang kita punya. Orang yang kaya adalah orang yang hatinya kaya. Dengan adanya apa yang dia makan hari ini dia bersyukur “Alhamdulillah~~”.
Namun ada juga orang yang kaya harta dan kaya hati, dan ada juga orang sudah miskin harta, hatinya pun miskin. Ini adalah hal yang tidak dapat kita ukur dengan dhahir.
Ada seorang murid yang berguru pada guru yang sangat miskin, tidak punya apa-apa, rumahnya pun kecil. Yang mana jika ingin makan maka dia harus pergi ke sungai untuk memancing. Apabila dapat ikan dia makan, keesokan harinya pun demikian, setiap hari seperti itu.
Satu hari guru itu mengutus muridnya untuk menyampaikan suatu hajat kepada abangnya di kota. Mendengar itu muridnya lalu pergi ke kota, di cari alamat rumah abang dari gurunya. Sesampainya di tujuan dia melihat rumah abangnya sangat besar. Sesudah berjumpa dengan abangnya, disampaikan hajatnya lalu murid itu berkata,
“saya di perintahkan guru saya untuk memohon kepada tuan untuk menasehati guru saya”
Maka abangnya menjawab,
“beri tahu kepada adik saya, jangan terlalu cinta dengan dunia”
Mendengar itu muridnya bertanya lagi,
“apa anda yakin dengan nasihat itu? Bukankah nasihat itu seharusnya untuk anda?”

Karena tidak mendengar jawaban murid itu langsung kembali ke kampung dan menjumpai gurunya lalu mengatakan nasihat dari abang guru itu, setelah mendengarnya guru itu pun menangis.
Keesokan hari murid itu bertanya,
                “wahai guru, sebenarnya apa yang berlaku?”
Gurunya menjawab,
“wahai muridku, sesungguhnya abangku itu tidak cinta kepada dunia, tapi dunia yang mencintainya sehingga dunia mengejarnya. Jika seluruh harta miliknya hilang dalam sekejap, tapi tidak akan berubah kekayaan hatinya dengan Allah. Aku selalu berfikir apakah besok aku akan dapat ikan atau tidak?. Dirinya masih bergantung dan bertanya-tanya”.
 Ukuran kekayaan itu adalah di hati, bukan kekayaan yang seperti kelihatannya, bukan dengan banyaknya harta yang di simpan tapi kekayaan di dalam hati.

“wallahu’alam”

Sumber : https://fuuislam.wordpress.com/2016/05/25/kaya-itu-letaknya-di-hati-bukan-di-harta/

Karena Ibu Akan Selalu Bersama Kita


 Karena Ibu Akan Selalu Bersama Kita
Alkisah, ada seorang ibu muda yang menapakkan kakinya di jalan kehidupan. “Jauhkah perjalanannya?” tanyanya. Dan si pemandu menjawab, “Ya, jalurnya berat. Dan kau akan menjadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan. Tapi akhir perjalanan akan lebih baik dari awalnya.”
Ibu muda itu tampak berbahagia, tapi dia tidak begitu percaya kalau segala sesuatunya bisa lebih baik dari masa-masa yang sudah dilewatinya. Ibu itu pun bermain-main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga bagi mereka di sepanjang perjalanan, memandikan mereka di sungai yang jernih. Mereka bermandikan sinar matahari yang hangat. Ibu muda itu bersuara kencang, “Tidak ada yang lebih indah dari ini.”
Ketika malam tiba, terjadi badai yang membuat jalanan menjadi gelap. Anak-anak bergetar ketakutan dan kedinginan. Sang ibu mendekap anak-anak dan menyelimuti mereka dengan mantelnya. Anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak takut karena engkau ada di dekat kami. Karena ada ibu, kami tidak akan terluka.”
Esok paginya, ibu dan anak-anaknya mendaki sebuah bukit. Lama-kelamaan mereka menjadi lelah. Namun, sang ibu selalu berkata pada anak-anaknya, “Sabarlah sedikit lagi, kita pasti akan sampai.” Kata-kata itu cukup membuat anak-anak bersemangat kembali untuk melanjutkan pendakian mereka. Dan ketika akhirnya tiba di atas bukit, anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak akan bisa sampai di sini tanpamu.”
Dan ketika berbaring di malam hari, sang ibu memandangi bintang-bintang dan mengucap syukur, “Hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, karena anak-anak saya belajar bersikap tabah dalam menghadapi kesusahan. Kemarin, saya memberi mereka keberanian. Hari ini, saya memberi mereka kekuatan.”
Dan keesokan harinya, datang awan tebal yang menggelapkan bumi, awan peperangan, kebencian dan kejahatan. Membuat anak-anak itu tersandung dan terjatuh, tapi sang ibu berusaha menguatkan mereka, “Lihatlah ke arah cahaya kemuliaan itu.” Anak-anak itu pun menuruti. Di atas awan terlihat cahaya yang bersinar sangat terang, dan cahaya itulah yang membimbing mereka melewati kegelapan itu. Malam itu berkatalah sang ibu, “Inilah hari yang terbaik. Karena saya sudah menunjukkan Tuhan pada anak-anak saya.”
Hari pun berlalu dengan cepat, lalu berganti dengan minggu, bulan, dan tahun. Sang ibu pun mulai menua dan tubuhnya menjadi membungkuk. Sementara, anak-anaknya bertumbuh besar dan kuat, serta berjalan dengan langkah berani. Ketika jalan yang mereka lalui terasa berat, anak-anak itu akan mengangkat ibu mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit. Di atas sana, mereka bisa melihat sebuah jalan yang bercahaya dan gerbang emas dengan pintu terbuka lebar. Sang ibu berkata, “Ini sudah akhir perjalanan. Dan sekarang saya tahu, akhir perjalanan ini memang lebih baik daripada awalnya karena anak-anak saya bisa berjalan sendiri, dan begitupun cucu-cucu saya.”
Dan anak-anaknya berkata, “Ibu akan selalu menyertai kami, sekalipun Ibu sudah pergi melewati gerbang itu.” Dan anak-anak itu melihat ibu mereka berjalan sendiri, lalu gerbang itu tertutup di belakangnya. Anak-anak itu berkata lagi, “Kami memang tidak melihatnya lagi, tapi Ibu tetap ada bersama kami. Seorang ibu seperti Ibu kami lebih dari sekadar memori. Dia selalu hidup di hati kami.”
Sama seperti dalam kisah di atas, Ibu kita pun selalu bersama kita. Dia bagai suara desiran dedaunan saat kita berjalan menyusuri jalan. Ibu kita hadir di tengah canda tawa kita. Dia mengkristal di setiap airmata kita. Dialah tempat kita berasal, rumah kesayangan kita; dan dialah peta yang mengarahkan langkah yang kita ambil. Dialah cinta kita, dan tidak ada satu pun hal yang bisa memisahkan kita dengan ibu kita. Tidak juga waktu, atau tempat….ataupun kematian. Karena Ibu akan selalu bersama kita.
Sumber : https://iphincow.com/2016/04/08/karena-ibu-akan-selalu-bersama-kita/#more-1328

Makhluk paling kuat imannya

Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat.

"Siapa makhluk yang paling kuat imannya?" Tanya Rasulullah

"Malaikat" Jawab sahabat.

"Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka tidak diberi nafsu oleh ALLAH,mereka hanyak memiliki akal, dan mereka senantiasa dekat dengan ALLAH." jawab Rasulullah.

“Para nabi,” jawab Sahabat.

“Bagaimana para nabi tidak beriman sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.” Nabi membantah lagi jawapan Sahabat.

“Kami Sahabatmu?!” Jawab Sahabat.

“Bagaimana kalian  tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian?” Jawab Nabi. 

Akhirnya Rasul bersabda: “Makhluk paling kuat imannya ialah mereka yang hidup sesudah aku. Mereka tidak pernah berjumpa tetapi beriman denganku. Tapi mereka mencintai aku melebihi anak dan orang-orang tua mereka. Mereka ialah Ikhwanku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya.” (Riwayat Abu Ya’la)

“Wahai Abu Bakar,” Rasulullah bersabda, “Adakah kamu tidak rindu Ikhwanku karena mereka juga mencintai engkau karena engkau Sahabatku.” (Riwayat Ibnu Hajar Asqalani )

Rasulullah SAW menyambung lagi: “Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman dengan aku. Dan berbahagialah tujuh kali orang-orang yang beriman dengan aku tapi tidak pernah berjumpa dengan aku.” (Riwayat Imam Ahmad)



Sumber : http://globalikhwan.or.id/kisah-nabi-muhammad-saw/

Rabu, 21 September 2016

Guru ditertawakan sewaktu menulis jawaban yang salah

Tertawaan keras terjadi saat seorang guru menulis di papan tulis.

Tiba-tiba sesuatu terjadi...

Suatu hari guru menulis di papan tulis:

8x1=7                    8x6=48
8x2=16                  8x7=56
8x3=24                  8x8=64
8x4=32                  8x9=72
8x5=40                  8x10=80

Setelah selesai, ia me,ihat kepada murid-muridnya dan mereka semua menertawakan dia, sebab perkalian "8x1=7" itu SALAH.

Kemudia guru itu berkata:
"Saya sengaja menulis jawaban yang salah dalam perkalian yang pertama, karena saya ingin kalian belajar sesuatu yang SANGAT PENTING. Ini untuk membuat kalian mengerti bagaimana dunia memperlakukan kalian . Kalian dapat melihat bahwa saya menjawab BENAR sebanyak 9 kali, tetapi tidak ada diantara kalian  memuji saya. Semua malah tertawa dan mengkritik saya karena SATU JAWABAN SALAH yang saya lakukan. Jadi inilah yang harus kalian sadari...
Dunia tidak akan memuji engkau untuk hal-hal baik yang engkau lakukan jutaan kali,tapi dunia akan mengkritik dan menertawakan engkau untuk SEBUAH KESALAHAN yang engkau lakukan, tapi janganlah berkecil hati. TERUSLAH BANGKIT DI ATAS TERTAWAAN DAN BERBAGAI KRITIK. KUATKANLAH HATIMU, karena ALLAH akan selalu menolong hambanya yang mau bersabar dalam menghadapi cobaan dunia".